Jatuh cinta dengan gunung.
Ya, saya jatuh cinta dengan keindahan gunung. Berada di ketinggian ratusan bahkan ribuan meter dari atas permukaan laut, membuat saya tercengang dan kagum dengan keindahannya. Gunung yang begitu mengerikan bisa menjadi begitu meyenangkan ketika kita mendakinya. Perlu diakui bahwa mendaki gunung bukan pekerjaan mudah bahkan menyenangkan. Setiap langkah pendakian menyiratkan perjuangan.
Sama seperti hidup. Setiap langkah perjalan hidup selalu menyiratkan perjuangan. Tapi, puncak gunung selalu menjadi kemenangan tersendiri bagi saya. Puncak gunung selalu menjadi moment perenungan bahwa saya bisa jika saya mau. Banyak hal yang saya pelajari dari pendakian gunung. Belajar bahwa kita begitu kecil ditengah kemahabesaran Tuhan. Kita belajar untuk selalu bersyukur bisa menikmati hal indah yang tidak semua orang bisa lakukan. Belajar bahwa menanggalkan ego atau saling tenggang rasa dalam setiap perjalanan itu penting. Belajar untuk bekerja sama dengan siapapun dalam mencapai kebaikan untuk bersama. Dan yang tak kalah penting kita belajar bahwa setiap proses pendakian perlu perjuangan didalamnya. Tak ada hal indah yang bisa kita peroleh dengan instan, semua butuh proses. Dan ketika kita mau mengikuti proses tersebut kita belajar lebih banyak tentang kehidupan. Sampai bertemu di puncak gunung!
Cari Blog Ini
28 Jul 2014
19 Jul 2013
Mie Gang Kecil
Mie ayam adalah makanan favorite saya. 'Hunting' mie ayam selalu menyenangkan. Perjalanan saya ke Solo bersama teman saya Diyan, membawa kami kepada sebuah tempat mie ayam yang letaknya sangat terpencil. Mie ayam ini tanpa sengaja kami temukan setelah berkenalan dengan menayakan salah satu pengunjung di klenteng yang berada di dekat Pasar Gede tentang kuliner yang ada di Kota Solo.
Hasil perbincangan dengan 'enci' pengunjung klenteng membawa kami ke sebuah gang sempit dekat Toko Roti Kecil. Mie gang kecil, tulisan pada spanduk yang ada di depan gang. Berjejer meja menghadap tembok di dalam gang. Mbak penjual dengan ramah menghampiri dan menyodorkan menu. Mata memandang dengan cepat dan langsung tertuju pada menu handalan yang menjadi tujuan utama 'hunting' kami, yaitu Mie Gepeng Ayam.
Mie ayam ini rasanya sangat sederhana, tidak banyak campurannya, terasa sangat 'fresh' sehingga memberikan sensasi tersendiri di lidah saya. Rasa 'fresh' ini dipertahankan karena mie ayam ini memang dibuat langsung oleh sang penjual. Harga semangkuk mie ayam ini pun tidak mahal, hanya Rp. 6.500 untuk porsi kecil, Rp. 7.000 untuk porsi sedang, dan Rp. 10.000 untuk porsi jumbo. Rasa yang enak dan harga yang murah serta keramahan dari penjual membuat kami betah untuk duduk berlama-lama dalam sebuah gang sempit untuk menikmati semangkok mie ayam. So, if you have a plan to visit Solo, please try this noodles. Happy eating :)
Hasil perbincangan dengan 'enci' pengunjung klenteng membawa kami ke sebuah gang sempit dekat Toko Roti Kecil. Mie gang kecil, tulisan pada spanduk yang ada di depan gang. Berjejer meja menghadap tembok di dalam gang. Mbak penjual dengan ramah menghampiri dan menyodorkan menu. Mata memandang dengan cepat dan langsung tertuju pada menu handalan yang menjadi tujuan utama 'hunting' kami, yaitu Mie Gepeng Ayam.
Mie ayam ini rasanya sangat sederhana, tidak banyak campurannya, terasa sangat 'fresh' sehingga memberikan sensasi tersendiri di lidah saya. Rasa 'fresh' ini dipertahankan karena mie ayam ini memang dibuat langsung oleh sang penjual. Harga semangkuk mie ayam ini pun tidak mahal, hanya Rp. 6.500 untuk porsi kecil, Rp. 7.000 untuk porsi sedang, dan Rp. 10.000 untuk porsi jumbo. Rasa yang enak dan harga yang murah serta keramahan dari penjual membuat kami betah untuk duduk berlama-lama dalam sebuah gang sempit untuk menikmati semangkok mie ayam. So, if you have a plan to visit Solo, please try this noodles. Happy eating :)
13 Nov 2012
My Mom My Hero
My Mom My Hero...
Pahlawan dalam arti yang sebenarnya, bukan seperti cerita kepahlawanan di buku-buku yang terdengar begitu spektakuler. Tak banyak waktu saya jalani bersamanya, tapi banyak kenangan tercipta dan terus menerus menari di otak saya.
My mom my hero, dalam arti yang sederhana dan sangat bermakna. Tawa, canda, riang, amarah, kesal, merupakan warna kehidupan saya bersamanya. Mami saya, satu2nya orang yang tahu dan pandai membaca emosi melalui raut wajah saya. Satu2nya yg dapat meredam kemarahan saya yah mami saya. Satu2nya orang yang bisa membuat saya tertawa kembali setelah saya marah yah mami saya. Orang yang pertama membuat ice breaker ketika kami berselisih paham adalah mami. Saya tipe orang yang memilih untuk diam jika saya sedang marah atau kesal. Mami menjadi pemecah kediaman saya dengan memanggil, "Non, jangan cemberut dong". Dan seperti tersihir saya pasti langsung tersenyum walau kadang saya menahannya dan tak mau terlihat olehnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tapi saya merasa bahwa kepergiannya hanya untuk sebentar bukan untuk selamanya.
Rasa rindu untuk bersama-sama dengannya kembali sering muncul tiba-tiba, terutama dimoment2 tertentu, dimana disaat2 tersebut beliau selalu ada menemani. Bubur telornya yang cair, sesuai kesukaan saya selalu terhidang jika saya sakit. Atau sibuk mencari tukang urut ketika saya terkilir. Bahkan menemani saya ke dokter kalau saya sakit. Menanyakan menu masakan apa yang akan beliau masak. Memantau keberadaan saya melalui telepon jika saya tak kunjung pulang. Sapaan dimana non, pulang jam brapa tak pernah terdengar lagi. Atau, melihat wajah ngantuknya membukakan pintu ketika saya pulang larut menjadi hal yang saya rindukan. Makan nasi uduk, soto mie ayam berdua juga menjadi moment yang saya rindukan. Berenang bersama, bercanda dan tertawa atau pergi ke gereja naik becak, juga merupakan hal yang paling saya rindukan.
Mami saya adalah pahlawan saya. Walaupun ada beberapa sifat atau pendapat kami yang tak sepaham, tetapi tetap, she is my true hero. No body is perfect, termasuk saya. But I know her passion to see her children growing up as a very good person. Pengorbanannya yang tak pernah terpikirkan oleh saya, menjadi begitu jelas setelah kepergiannya pulang ke rumah Bapa. Kasih sayangnya yang tak mengenal pamrih, menjadi semakin nyata ketika saya sadar mami sudah tidak ada.
Rasa sesal kadang datang menghampiri. Menyesal tidak bisa membuatnya lebih bahagia. Menyesal tidak dapat memenuhi janji-janji saya... Menyesal dan berharap saya dapat mengulang waktu yang telah lewat. Aahh penyesalan itu memang selalu datang di akhir!
My mom, my hero. She is happy in the heaven now, and I'm glad to know that she is better there than here.
Love u always
Pahlawan dalam arti yang sebenarnya, bukan seperti cerita kepahlawanan di buku-buku yang terdengar begitu spektakuler. Tak banyak waktu saya jalani bersamanya, tapi banyak kenangan tercipta dan terus menerus menari di otak saya.
My mom my hero, dalam arti yang sederhana dan sangat bermakna. Tawa, canda, riang, amarah, kesal, merupakan warna kehidupan saya bersamanya. Mami saya, satu2nya orang yang tahu dan pandai membaca emosi melalui raut wajah saya. Satu2nya yg dapat meredam kemarahan saya yah mami saya. Satu2nya orang yang bisa membuat saya tertawa kembali setelah saya marah yah mami saya. Orang yang pertama membuat ice breaker ketika kami berselisih paham adalah mami. Saya tipe orang yang memilih untuk diam jika saya sedang marah atau kesal. Mami menjadi pemecah kediaman saya dengan memanggil, "Non, jangan cemberut dong". Dan seperti tersihir saya pasti langsung tersenyum walau kadang saya menahannya dan tak mau terlihat olehnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tapi saya merasa bahwa kepergiannya hanya untuk sebentar bukan untuk selamanya.
Rasa rindu untuk bersama-sama dengannya kembali sering muncul tiba-tiba, terutama dimoment2 tertentu, dimana disaat2 tersebut beliau selalu ada menemani. Bubur telornya yang cair, sesuai kesukaan saya selalu terhidang jika saya sakit. Atau sibuk mencari tukang urut ketika saya terkilir. Bahkan menemani saya ke dokter kalau saya sakit. Menanyakan menu masakan apa yang akan beliau masak. Memantau keberadaan saya melalui telepon jika saya tak kunjung pulang. Sapaan dimana non, pulang jam brapa tak pernah terdengar lagi. Atau, melihat wajah ngantuknya membukakan pintu ketika saya pulang larut menjadi hal yang saya rindukan. Makan nasi uduk, soto mie ayam berdua juga menjadi moment yang saya rindukan. Berenang bersama, bercanda dan tertawa atau pergi ke gereja naik becak, juga merupakan hal yang paling saya rindukan.
Mami saya adalah pahlawan saya. Walaupun ada beberapa sifat atau pendapat kami yang tak sepaham, tetapi tetap, she is my true hero. No body is perfect, termasuk saya. But I know her passion to see her children growing up as a very good person. Pengorbanannya yang tak pernah terpikirkan oleh saya, menjadi begitu jelas setelah kepergiannya pulang ke rumah Bapa. Kasih sayangnya yang tak mengenal pamrih, menjadi semakin nyata ketika saya sadar mami sudah tidak ada.
Rasa sesal kadang datang menghampiri. Menyesal tidak bisa membuatnya lebih bahagia. Menyesal tidak dapat memenuhi janji-janji saya... Menyesal dan berharap saya dapat mengulang waktu yang telah lewat. Aahh penyesalan itu memang selalu datang di akhir!
My mom, my hero. She is happy in the heaven now, and I'm glad to know that she is better there than here.
Love u always
Langganan:
Postingan (Atom)