It's a beautiful day!!!
Merdeka atau mati!!!
Merdeka atau mati bukan pilihan bagi Tirna, gadis kecil mungil berperangai cantik
Merdeka bisa keluar dari rumah kecil dan sumpek penuh pertengkaran orang tuanya tentang masalah ekonomi lagi-lagi bukan pilihan tapi paksaan.
Terpaksa keluar karena di depan pintu sudah menunggu seorang pria paruh baya yg sudah memiliki selusin anak dari 3 istri ayu namun masih kurang dan kembali meleleh begitu melihat paras ayu Tirna, anak penjudi yang selalu malang nasibnya.
Mati bukan pilihan, tapi paksaan dari kedua orang tuanya untuk menikahi laki-laki bermata belang yg haus dengan keperawanannya demi melunasi hutang orang tuanya yang tak setimpal dengan harga dirinya yang perlahan mulai mati.
Merdeka begitu melangkah keluar pintu rumah dan mati perasaannya begitu menginjakkan langkahnya melewati pintu rumah barunya.
Cari Blog Ini
27 Jan 2018
3 Okt 2015
Aroma Kopi
“Kalau kita menikah nanti, rumah harus dipenuhi aroma kopi, siang dan
sore.” “Loohh… aku kan ndak suka kopi. Teh lebih menyehatkan. Apalagi
teh hijau. Protesku dengan cepat.” “Yah, kamu ndak usah meminumnya,
cukup menciumnya. Pelan2 belajar mencintai aroma kopi lalu pelan-pelan
menyeruputnya. Kopi tak pernah memaksa dirinya untuk dicintai loh,
tetapi kita manusia yang sudah mengenalnya akan terus menerus jatuh
cinta kepadanya.”
Dan sekarang aku duduk di pojokan kedai favorit kami ditemani dengan secangkir kopi dengan lambang hati di atasnya. Ada banyak cinta antara aku dan kopi tetapi juga ada luka di dalam setiap cangkirnya. Rinduku hanya bisa kuwujudkan dengan mencium aroma dan memandang cangkir2 yang tak akan pernah berani kuseruput. Terlalu pahit walau dijejali kilo-an gula. Kubiarkan kopi menguap meninggalkan aroma khasnya karena ku tahu di dekatku ia akan duduk dan menciumnya, tak berwujud sama seperti aroma-aroma itu.
Dan sekarang aku duduk di pojokan kedai favorit kami ditemani dengan secangkir kopi dengan lambang hati di atasnya. Ada banyak cinta antara aku dan kopi tetapi juga ada luka di dalam setiap cangkirnya. Rinduku hanya bisa kuwujudkan dengan mencium aroma dan memandang cangkir2 yang tak akan pernah berani kuseruput. Terlalu pahit walau dijejali kilo-an gula. Kubiarkan kopi menguap meninggalkan aroma khasnya karena ku tahu di dekatku ia akan duduk dan menciumnya, tak berwujud sama seperti aroma-aroma itu.
Di Atas Sana
Dulu kau pernah bercerita bahwa ada satu tempat yang sangat indah di
dunia ini. Tempat para dewa dan dewi berdiam. Tempat para peri
bersemayam. Tempat itu jauh, tinggi sekali di atas sana, di atas puncak
itu tunjukkmu. Di sana hanya ada damai, bahagia dan rasa aman. Hanya di
sana kita dapat berteman dan harus berteman dengan hewan yang paling
liar sekalipun. Tak ada rasa curiga atau prasangka buruk.
Ya, di sana, di atas puncak gunung itu, kita belajar untuk lebih memaknai diri. Hidup itu adalah perjuangan.Tidak ada kata instan.
Di atas sana, kita merasa kecil, karena memang kita kecil. Ego di dalam diri kita yang terlalu besar sehingga kita sering membusungkan dada lalu berkata “ini saya”.
Di atas sana kita bebas menikmati setiap jengkal tanah. Semua bebas menghirup udara segar dan memandang gumpalan awan yang bergelayutan di langit.
“Kau harus ke sana!” katamu waktu itu.
Sekarang, aku berdiri di sini, mencoba merenungi semua ucapanmu. Mengingat perkataanmu “kau harus kesana!”
Di atas sini ku titipkan salam dan rindu teramat dalam melalui desir angin “aku sudah sampai! semoga kita dapat bertemu lagi.”
Ya, di sana, di atas puncak gunung itu, kita belajar untuk lebih memaknai diri. Hidup itu adalah perjuangan.Tidak ada kata instan.
Di atas sana, kita merasa kecil, karena memang kita kecil. Ego di dalam diri kita yang terlalu besar sehingga kita sering membusungkan dada lalu berkata “ini saya”.
Di atas sana kita bebas menikmati setiap jengkal tanah. Semua bebas menghirup udara segar dan memandang gumpalan awan yang bergelayutan di langit.
“Kau harus ke sana!” katamu waktu itu.
Sekarang, aku berdiri di sini, mencoba merenungi semua ucapanmu. Mengingat perkataanmu “kau harus kesana!”
Di atas sini ku titipkan salam dan rindu teramat dalam melalui desir angin “aku sudah sampai! semoga kita dapat bertemu lagi.”
28 Jul 2014
Jatuh Cinta dengan Keindahan Gunung
Jatuh cinta dengan gunung.
Ya, saya jatuh cinta dengan keindahan gunung. Berada di ketinggian ratusan bahkan ribuan meter dari atas permukaan laut, membuat saya tercengang dan kagum dengan keindahannya. Gunung yang begitu mengerikan bisa menjadi begitu meyenangkan ketika kita mendakinya. Perlu diakui bahwa mendaki gunung bukan pekerjaan mudah bahkan menyenangkan. Setiap langkah pendakian menyiratkan perjuangan.
Sama seperti hidup. Setiap langkah perjalan hidup selalu menyiratkan perjuangan. Tapi, puncak gunung selalu menjadi kemenangan tersendiri bagi saya. Puncak gunung selalu menjadi moment perenungan bahwa saya bisa jika saya mau. Banyak hal yang saya pelajari dari pendakian gunung. Belajar bahwa kita begitu kecil ditengah kemahabesaran Tuhan. Kita belajar untuk selalu bersyukur bisa menikmati hal indah yang tidak semua orang bisa lakukan. Belajar bahwa menanggalkan ego atau saling tenggang rasa dalam setiap perjalanan itu penting. Belajar untuk bekerja sama dengan siapapun dalam mencapai kebaikan untuk bersama. Dan yang tak kalah penting kita belajar bahwa setiap proses pendakian perlu perjuangan didalamnya. Tak ada hal indah yang bisa kita peroleh dengan instan, semua butuh proses. Dan ketika kita mau mengikuti proses tersebut kita belajar lebih banyak tentang kehidupan. Sampai bertemu di puncak gunung!
Ya, saya jatuh cinta dengan keindahan gunung. Berada di ketinggian ratusan bahkan ribuan meter dari atas permukaan laut, membuat saya tercengang dan kagum dengan keindahannya. Gunung yang begitu mengerikan bisa menjadi begitu meyenangkan ketika kita mendakinya. Perlu diakui bahwa mendaki gunung bukan pekerjaan mudah bahkan menyenangkan. Setiap langkah pendakian menyiratkan perjuangan.
Sama seperti hidup. Setiap langkah perjalan hidup selalu menyiratkan perjuangan. Tapi, puncak gunung selalu menjadi kemenangan tersendiri bagi saya. Puncak gunung selalu menjadi moment perenungan bahwa saya bisa jika saya mau. Banyak hal yang saya pelajari dari pendakian gunung. Belajar bahwa kita begitu kecil ditengah kemahabesaran Tuhan. Kita belajar untuk selalu bersyukur bisa menikmati hal indah yang tidak semua orang bisa lakukan. Belajar bahwa menanggalkan ego atau saling tenggang rasa dalam setiap perjalanan itu penting. Belajar untuk bekerja sama dengan siapapun dalam mencapai kebaikan untuk bersama. Dan yang tak kalah penting kita belajar bahwa setiap proses pendakian perlu perjuangan didalamnya. Tak ada hal indah yang bisa kita peroleh dengan instan, semua butuh proses. Dan ketika kita mau mengikuti proses tersebut kita belajar lebih banyak tentang kehidupan. Sampai bertemu di puncak gunung!
19 Jul 2013
Mie Gang Kecil
Mie ayam adalah makanan favorite saya. 'Hunting' mie ayam selalu menyenangkan. Perjalanan saya ke Solo bersama teman saya Diyan, membawa kami kepada sebuah tempat mie ayam yang letaknya sangat terpencil. Mie ayam ini tanpa sengaja kami temukan setelah berkenalan dengan menayakan salah satu pengunjung di klenteng yang berada di dekat Pasar Gede tentang kuliner yang ada di Kota Solo.
Hasil perbincangan dengan 'enci' pengunjung klenteng membawa kami ke sebuah gang sempit dekat Toko Roti Kecil. Mie gang kecil, tulisan pada spanduk yang ada di depan gang. Berjejer meja menghadap tembok di dalam gang. Mbak penjual dengan ramah menghampiri dan menyodorkan menu. Mata memandang dengan cepat dan langsung tertuju pada menu handalan yang menjadi tujuan utama 'hunting' kami, yaitu Mie Gepeng Ayam.
Mie ayam ini rasanya sangat sederhana, tidak banyak campurannya, terasa sangat 'fresh' sehingga memberikan sensasi tersendiri di lidah saya. Rasa 'fresh' ini dipertahankan karena mie ayam ini memang dibuat langsung oleh sang penjual. Harga semangkuk mie ayam ini pun tidak mahal, hanya Rp. 6.500 untuk porsi kecil, Rp. 7.000 untuk porsi sedang, dan Rp. 10.000 untuk porsi jumbo. Rasa yang enak dan harga yang murah serta keramahan dari penjual membuat kami betah untuk duduk berlama-lama dalam sebuah gang sempit untuk menikmati semangkok mie ayam. So, if you have a plan to visit Solo, please try this noodles. Happy eating :)
Hasil perbincangan dengan 'enci' pengunjung klenteng membawa kami ke sebuah gang sempit dekat Toko Roti Kecil. Mie gang kecil, tulisan pada spanduk yang ada di depan gang. Berjejer meja menghadap tembok di dalam gang. Mbak penjual dengan ramah menghampiri dan menyodorkan menu. Mata memandang dengan cepat dan langsung tertuju pada menu handalan yang menjadi tujuan utama 'hunting' kami, yaitu Mie Gepeng Ayam.
Mie ayam ini rasanya sangat sederhana, tidak banyak campurannya, terasa sangat 'fresh' sehingga memberikan sensasi tersendiri di lidah saya. Rasa 'fresh' ini dipertahankan karena mie ayam ini memang dibuat langsung oleh sang penjual. Harga semangkuk mie ayam ini pun tidak mahal, hanya Rp. 6.500 untuk porsi kecil, Rp. 7.000 untuk porsi sedang, dan Rp. 10.000 untuk porsi jumbo. Rasa yang enak dan harga yang murah serta keramahan dari penjual membuat kami betah untuk duduk berlama-lama dalam sebuah gang sempit untuk menikmati semangkok mie ayam. So, if you have a plan to visit Solo, please try this noodles. Happy eating :)
13 Nov 2012
My Mom My Hero
My Mom My Hero...
Pahlawan dalam arti yang sebenarnya, bukan seperti cerita kepahlawanan di buku-buku yang terdengar begitu spektakuler. Tak banyak waktu saya jalani bersamanya, tapi banyak kenangan tercipta dan terus menerus menari di otak saya.
My mom my hero, dalam arti yang sederhana dan sangat bermakna. Tawa, canda, riang, amarah, kesal, merupakan warna kehidupan saya bersamanya. Mami saya, satu2nya orang yang tahu dan pandai membaca emosi melalui raut wajah saya. Satu2nya yg dapat meredam kemarahan saya yah mami saya. Satu2nya orang yang bisa membuat saya tertawa kembali setelah saya marah yah mami saya. Orang yang pertama membuat ice breaker ketika kami berselisih paham adalah mami. Saya tipe orang yang memilih untuk diam jika saya sedang marah atau kesal. Mami menjadi pemecah kediaman saya dengan memanggil, "Non, jangan cemberut dong". Dan seperti tersihir saya pasti langsung tersenyum walau kadang saya menahannya dan tak mau terlihat olehnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tapi saya merasa bahwa kepergiannya hanya untuk sebentar bukan untuk selamanya.
Rasa rindu untuk bersama-sama dengannya kembali sering muncul tiba-tiba, terutama dimoment2 tertentu, dimana disaat2 tersebut beliau selalu ada menemani. Bubur telornya yang cair, sesuai kesukaan saya selalu terhidang jika saya sakit. Atau sibuk mencari tukang urut ketika saya terkilir. Bahkan menemani saya ke dokter kalau saya sakit. Menanyakan menu masakan apa yang akan beliau masak. Memantau keberadaan saya melalui telepon jika saya tak kunjung pulang. Sapaan dimana non, pulang jam brapa tak pernah terdengar lagi. Atau, melihat wajah ngantuknya membukakan pintu ketika saya pulang larut menjadi hal yang saya rindukan. Makan nasi uduk, soto mie ayam berdua juga menjadi moment yang saya rindukan. Berenang bersama, bercanda dan tertawa atau pergi ke gereja naik becak, juga merupakan hal yang paling saya rindukan.
Mami saya adalah pahlawan saya. Walaupun ada beberapa sifat atau pendapat kami yang tak sepaham, tetapi tetap, she is my true hero. No body is perfect, termasuk saya. But I know her passion to see her children growing up as a very good person. Pengorbanannya yang tak pernah terpikirkan oleh saya, menjadi begitu jelas setelah kepergiannya pulang ke rumah Bapa. Kasih sayangnya yang tak mengenal pamrih, menjadi semakin nyata ketika saya sadar mami sudah tidak ada.
Rasa sesal kadang datang menghampiri. Menyesal tidak bisa membuatnya lebih bahagia. Menyesal tidak dapat memenuhi janji-janji saya... Menyesal dan berharap saya dapat mengulang waktu yang telah lewat. Aahh penyesalan itu memang selalu datang di akhir!
My mom, my hero. She is happy in the heaven now, and I'm glad to know that she is better there than here.
Love u always
Pahlawan dalam arti yang sebenarnya, bukan seperti cerita kepahlawanan di buku-buku yang terdengar begitu spektakuler. Tak banyak waktu saya jalani bersamanya, tapi banyak kenangan tercipta dan terus menerus menari di otak saya.
My mom my hero, dalam arti yang sederhana dan sangat bermakna. Tawa, canda, riang, amarah, kesal, merupakan warna kehidupan saya bersamanya. Mami saya, satu2nya orang yang tahu dan pandai membaca emosi melalui raut wajah saya. Satu2nya yg dapat meredam kemarahan saya yah mami saya. Satu2nya orang yang bisa membuat saya tertawa kembali setelah saya marah yah mami saya. Orang yang pertama membuat ice breaker ketika kami berselisih paham adalah mami. Saya tipe orang yang memilih untuk diam jika saya sedang marah atau kesal. Mami menjadi pemecah kediaman saya dengan memanggil, "Non, jangan cemberut dong". Dan seperti tersihir saya pasti langsung tersenyum walau kadang saya menahannya dan tak mau terlihat olehnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tapi saya merasa bahwa kepergiannya hanya untuk sebentar bukan untuk selamanya.
Rasa rindu untuk bersama-sama dengannya kembali sering muncul tiba-tiba, terutama dimoment2 tertentu, dimana disaat2 tersebut beliau selalu ada menemani. Bubur telornya yang cair, sesuai kesukaan saya selalu terhidang jika saya sakit. Atau sibuk mencari tukang urut ketika saya terkilir. Bahkan menemani saya ke dokter kalau saya sakit. Menanyakan menu masakan apa yang akan beliau masak. Memantau keberadaan saya melalui telepon jika saya tak kunjung pulang. Sapaan dimana non, pulang jam brapa tak pernah terdengar lagi. Atau, melihat wajah ngantuknya membukakan pintu ketika saya pulang larut menjadi hal yang saya rindukan. Makan nasi uduk, soto mie ayam berdua juga menjadi moment yang saya rindukan. Berenang bersama, bercanda dan tertawa atau pergi ke gereja naik becak, juga merupakan hal yang paling saya rindukan.
Mami saya adalah pahlawan saya. Walaupun ada beberapa sifat atau pendapat kami yang tak sepaham, tetapi tetap, she is my true hero. No body is perfect, termasuk saya. But I know her passion to see her children growing up as a very good person. Pengorbanannya yang tak pernah terpikirkan oleh saya, menjadi begitu jelas setelah kepergiannya pulang ke rumah Bapa. Kasih sayangnya yang tak mengenal pamrih, menjadi semakin nyata ketika saya sadar mami sudah tidak ada.
Rasa sesal kadang datang menghampiri. Menyesal tidak bisa membuatnya lebih bahagia. Menyesal tidak dapat memenuhi janji-janji saya... Menyesal dan berharap saya dapat mengulang waktu yang telah lewat. Aahh penyesalan itu memang selalu datang di akhir!
My mom, my hero. She is happy in the heaven now, and I'm glad to know that she is better there than here.
Love u always
20 Jun 2012
Jelajah Pecinan Kota Tua Tangerang
Sudah lama sekali tidak menulis, dan akhirnya saya punya kesempatan untuk bercerita. Well, banyak hal yang terlewatkan tanpa sempat saya tulis, dan sekarang saya mencoba untuk memanggil kenangan-kenangan itu kembali.
27 Mei 2012, saya bersama 2 orang teman saya menjelajahi pecinan Kota Tangerang guna menguak jejak Tionghoa Benteng. Diawali dengan janjian di Tol Jati Bening, Bekasi, kami naik Bus Mayasaribakti jurusan Bekasi - Kalideres. Kami turun di Terminal Kalideres, melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot kecil putih hijau jurusan Kota Bumi. Perjalanan terhenti di depan Gereja Katolik, sebrang KFC arah pasar lama Tangerang. Kami melanjutkan perjalanan dengan naik becak.
Diawal tawar menawar, kami berniat untuk naik 2 becak, tetapi, si abang ngotot bilang bisa bertiga dalam 1 becak. Harga yang ditawarkan adalah 10rb, dan kami pun akhirnya mengiyakan tawaran tersebut yang mengakibatkan rasa was-was disepanjang perjalanan takut becaknya terbalik xiixixixii...
Perjalanan kami pun terhenti di pasar, di depan sebuah gang yang cukup dilewati hanya oleh 1 mobil. Beberapa meter dari perhentian becak tadi, kami langsung menemukan klenteng tua yang ingin kami lihat. Klenteng Boen Tek Bio, yang merupakan klenteng tertua di Kota Tangerang berumur +/- 3 abad. Atmosphere ketuaannya sangat terasa. Kami keliling klenteng ini dan tidak lupa untuk mengambil foto di klenteng ini. Saya sangat suka dengan keramahan dan kenyamanan klenteng tua ini. Dominasi warna merah dan emas, layaknya klenteng2 yang ada di seluruh penjuru dunia, membuat klenteng kecil yang berada ditengah pasar terlihat semakin unik dan kokoh, seolah2 ingin bercerita betapa ia sangat bangga dengan keberadaanya yang tak lekang waktu.
Sesi memutar klenteng dan foto-fotopun selesai, saya dan teman-teman saya melanjutkan perjalanan kami ke sebuah museum tua yang berada tepat di belakang klenteng. Museum Benteng Heritage, merupakan museum kecil yang dikelola oleh Bapak Udaya Halim. Memasuki museum tersebut, saya dan kawan-kawan dikenakan biaya Rp. 20rb/orang sebagai biaya administrasi dan guide yang tak hanya sekedar menemani kami berkeliling tetapi juga menjelaskan sejarah berdirinya museum tersebut serta sejarah dari masing-masing koleksi yang ada dengan sangat rinci dan informatif. Saya dan teman-temanpun terkagum-kagum dan seolah-olah terbawa kesuasana jaman dahulu.
Oohh iyah, salah satu informasi yang kerap teringat adalah tangga asli yang digunakan untuk naik kelantai atas tempat koleksi museum disimpan. Untuk naik ke lantai atas kami diharuskan melepas sepatu. Pihak museum menyediakan kantung plastik untuk menaruh sepatu yang kami pakai. Tangga dengan tingkat kecuraman 45 derajat membuat saya pelan2 menapakinya takut terpeleset. Ternyata tangga tersebut merupakan tangga yang umum dimiliki oleh etnis tionghoa di dalam rumahnya. Dan takjubnya lagi, sang pemandu bercerita dia terbiasa lari naik turun tangga model itu waktu ia kecil tanpa pernah terjatuh di dalam rumahnya yang ada di depan kanan museum. Bagi yang sudah menonton film Soegija, tangga dengan model sama digunakan di rumah keluarga Ling-ling.
Selain tangga, pintu yang menghadap balkon dibagian atas museum juga sangat kental arsitektur Chinanya. Melihat pintu tersebut, saya teringat akan film kungfu yang suka saya tonton jaman SD-SMP dulu. Selain bentuknya yang kokoh, ternyata teknik membukanya pun sulit jika kita tidak tahu caranya, walaupun setelah tahu cara membukanya ternyata sangat mudah hehhehhee.... Salah satu koleksi benda yang cukup menarik perhatian adalah alat timbang yang terbuat dari logam besi panjang yang ujungnya terdapat rantai tajam yang berfungsi sebagai cantelan barang yang akan ditimbang. Setelah berjualan, besi tersebut dipakai untuk menaruh hasil jualan. Berhubung ujung dari timbangan tersebut tajam, maka siapapun yang ingin mengambil hasil jualan harus berfikir panjang alih-alih tersambar ujung besi xixixixixiii...
1 jam sudah kami berkeliling dan mendapat informasi tentang sejarah keberadaan etnis Tionghoa di bumi Indonesia, tepatnya Tangerang sejak berabad-abad lalu. Perut kamipun mulai terasa lapar, sehingga mengharuskan kami berhenti disebuah rumah makan mie ayam kemuning yang letaknya berjejer dengan Klenteng Boen Tek Bio. Saya pun memesan segelas es teh manis, semangkuk mie ayam dan 1 porsi swekiau (yang saya bagi 2 dengan teman saya). Setelah perut terasa penuh, kami melanjutkan perjalanan kami dengan menaiki angkot kecil menuju Klenteng Bun San Bio.
Klenteng besar yang berada tepat di pinggir jalan Pasar Baru, membuat Klenteng ini mudah untuk dicari. Kami pun masuk dan meminta izin ke sekretariat untuk berkeliling dan mengambil beberapa foto di dalam klenteng. Berbeda dengan klenteng sebelumnya, Klenteng Bun San Bio lebih besar dan terdapat taman kecil di bagian belakang klenteng. Arsitektur klenteng ini pun terlihat lebih modern dibanding Klenteng Boen Tek Bio. Memasuki klenteng ini, kita akan mendapat pemandangan unik, melihat lampion-lampion berukuran sedang bergantungan di langit-langit klenteng berbuntut kertas kuning berisikan nama orang serta nama tempat usaha yang dikelola.
Keunikan lain dari klenteng ini adalah klenteng tersebut tercatat berkali-kali memecah rekor MURI. Total rekor sampai saya datang berkunjung sebanyak 11 rekor. Woooww... Salah satu artikel dan foto yang terpajang di sisi kanan klenteng ialah rekor mendirikan 108 butir telur oleh 9 orang dalam kurun waktu 9 menit. Hebat yah, ternyata klenteng ini langganan memecahkan rekor MURI.
Well, setelah berkeliling dan berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Kali ini, kami memutuskan untuk balik ke pasar lama, dan mencoba untuk meminum es campur yang terletak di sebrang Klenteng Boen Tek Bio. Warung es campur tersebut selalu ramai pengunjung. Untuk merasakan kenikmatan es tersebut, kami harus menunggu lebih dari 15 menit untuk 1 mangkuk es campur. Lamanya menunggu dan panasnya udara hari itu terbalaskan dengan nikmatnya dan segarnya es campur yang kami minum. Sehabis menyantap es campur tersebut kami pun segera pulang menuju rumah masing-masing.
Panasnya udara sepanjang perjalanan tak terasa karena ketakjuban kami masing-masing akan indahnya sejarah kota tua Tangerang. Betapa kayanya negeri kita akan budaya dan suku bangsa. Aaahhh saya bangga menjadi bagian dari keBhinekaan yang ada di negeri tercinta Indonesia. Selamat menjaga akar budaya dan kebhinekaan yang sudah ada. Salam Indonesia :)
Sesi memutar klenteng dan foto-fotopun selesai, saya dan teman-teman saya melanjutkan perjalanan kami ke sebuah museum tua yang berada tepat di belakang klenteng. Museum Benteng Heritage, merupakan museum kecil yang dikelola oleh Bapak Udaya Halim. Memasuki museum tersebut, saya dan kawan-kawan dikenakan biaya Rp. 20rb/orang sebagai biaya administrasi dan guide yang tak hanya sekedar menemani kami berkeliling tetapi juga menjelaskan sejarah berdirinya museum tersebut serta sejarah dari masing-masing koleksi yang ada dengan sangat rinci dan informatif. Saya dan teman-temanpun terkagum-kagum dan seolah-olah terbawa kesuasana jaman dahulu.
Oohh iyah, salah satu informasi yang kerap teringat adalah tangga asli yang digunakan untuk naik kelantai atas tempat koleksi museum disimpan. Untuk naik ke lantai atas kami diharuskan melepas sepatu. Pihak museum menyediakan kantung plastik untuk menaruh sepatu yang kami pakai. Tangga dengan tingkat kecuraman 45 derajat membuat saya pelan2 menapakinya takut terpeleset. Ternyata tangga tersebut merupakan tangga yang umum dimiliki oleh etnis tionghoa di dalam rumahnya. Dan takjubnya lagi, sang pemandu bercerita dia terbiasa lari naik turun tangga model itu waktu ia kecil tanpa pernah terjatuh di dalam rumahnya yang ada di depan kanan museum. Bagi yang sudah menonton film Soegija, tangga dengan model sama digunakan di rumah keluarga Ling-ling.
Selain tangga, pintu yang menghadap balkon dibagian atas museum juga sangat kental arsitektur Chinanya. Melihat pintu tersebut, saya teringat akan film kungfu yang suka saya tonton jaman SD-SMP dulu. Selain bentuknya yang kokoh, ternyata teknik membukanya pun sulit jika kita tidak tahu caranya, walaupun setelah tahu cara membukanya ternyata sangat mudah hehhehhee.... Salah satu koleksi benda yang cukup menarik perhatian adalah alat timbang yang terbuat dari logam besi panjang yang ujungnya terdapat rantai tajam yang berfungsi sebagai cantelan barang yang akan ditimbang. Setelah berjualan, besi tersebut dipakai untuk menaruh hasil jualan. Berhubung ujung dari timbangan tersebut tajam, maka siapapun yang ingin mengambil hasil jualan harus berfikir panjang alih-alih tersambar ujung besi xixixixixiii...
1 jam sudah kami berkeliling dan mendapat informasi tentang sejarah keberadaan etnis Tionghoa di bumi Indonesia, tepatnya Tangerang sejak berabad-abad lalu. Perut kamipun mulai terasa lapar, sehingga mengharuskan kami berhenti disebuah rumah makan mie ayam kemuning yang letaknya berjejer dengan Klenteng Boen Tek Bio. Saya pun memesan segelas es teh manis, semangkuk mie ayam dan 1 porsi swekiau (yang saya bagi 2 dengan teman saya). Setelah perut terasa penuh, kami melanjutkan perjalanan kami dengan menaiki angkot kecil menuju Klenteng Bun San Bio.
Klenteng besar yang berada tepat di pinggir jalan Pasar Baru, membuat Klenteng ini mudah untuk dicari. Kami pun masuk dan meminta izin ke sekretariat untuk berkeliling dan mengambil beberapa foto di dalam klenteng. Berbeda dengan klenteng sebelumnya, Klenteng Bun San Bio lebih besar dan terdapat taman kecil di bagian belakang klenteng. Arsitektur klenteng ini pun terlihat lebih modern dibanding Klenteng Boen Tek Bio. Memasuki klenteng ini, kita akan mendapat pemandangan unik, melihat lampion-lampion berukuran sedang bergantungan di langit-langit klenteng berbuntut kertas kuning berisikan nama orang serta nama tempat usaha yang dikelola.
Keunikan lain dari klenteng ini adalah klenteng tersebut tercatat berkali-kali memecah rekor MURI. Total rekor sampai saya datang berkunjung sebanyak 11 rekor. Woooww... Salah satu artikel dan foto yang terpajang di sisi kanan klenteng ialah rekor mendirikan 108 butir telur oleh 9 orang dalam kurun waktu 9 menit. Hebat yah, ternyata klenteng ini langganan memecahkan rekor MURI.
Well, setelah berkeliling dan berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Kali ini, kami memutuskan untuk balik ke pasar lama, dan mencoba untuk meminum es campur yang terletak di sebrang Klenteng Boen Tek Bio. Warung es campur tersebut selalu ramai pengunjung. Untuk merasakan kenikmatan es tersebut, kami harus menunggu lebih dari 15 menit untuk 1 mangkuk es campur. Lamanya menunggu dan panasnya udara hari itu terbalaskan dengan nikmatnya dan segarnya es campur yang kami minum. Sehabis menyantap es campur tersebut kami pun segera pulang menuju rumah masing-masing.
Panasnya udara sepanjang perjalanan tak terasa karena ketakjuban kami masing-masing akan indahnya sejarah kota tua Tangerang. Betapa kayanya negeri kita akan budaya dan suku bangsa. Aaahhh saya bangga menjadi bagian dari keBhinekaan yang ada di negeri tercinta Indonesia. Selamat menjaga akar budaya dan kebhinekaan yang sudah ada. Salam Indonesia :)
15 Jun 2012
Solitaire dan Sendiri
Apa hubungannya solitaire dan sendiri dalam kehidupan saya? Dua-duanya hal yang tidak terlalu saya suka tetapi sering saya lakukan *jangan bingung yah :d... Dan karena sering dilakukan maka saya menjadi terbiasa. Solitaire adalah games yang harus dimainkan sendiri. Jadi kata solitaire dan sendiri sangat erat hubungannya.Terbiasa bermain solitaire sekedar membunuh kebosanan atau terbiasa melakukan sesuatu sendiri jika yang lain berhalangan hadir kerap saya lakukan sampai saat ini.
Solitaire, permainan kartu di komputer merupakan sebuah permainan yang sebetulnya tidak begitu saya suka namun sering saya mainkan untuk sekedar menghabiskan waktu. Saya kenal permainan ini karena sering melihat kakak saya memainkannya. Lama-lama saya jadi ikut memainkkannya dan sering sekali saya lakukan untuk menghabiskan waktu luang saya. Sekali saya memulai untuk memainkannya, saya akan ketagihan untuk mengulangnya.
Lalu, bagaimana dengan sendiri? Awalnya saya tidak suka melakukan sesuatu sendiri, saya tipe orang yang senang berkumpul, bukan orang yang senang menyendiri. Tetapi tidak dapat dipungkiri saya sering melakukan sesuatu sendiri. Saya teringat masa kuliah dulu, seorang teman saya kerap melakukan sesuatu sendiri. Dan ia sukses membuat saya terbengong-bengong mendengar ceritanya pergi berbelanja sendiri ke salah satu swalayan di daerah sudirman yang sekarang sudah tutup, nonton di bisokop sendiri, pergi ke gereja sendiri, dan banyak hal lainnya yang sering dilakukan sendiri. My God, aneh bener sih ini orang batin saya.
Suatu waktu saya tertantang untuk mencoba nonton di bisokop sendiri. Woooowww.... tau gak, untuk memulai melangkah dan mengingat tujuan saya pergi keluar saat itu dilalui dengan pergumulan yang besar. Perang batin, antara jadi pergi atau tidak. Keringat dingin, bolak balik di dalam rumah, resah dan gelisah. Lebaaaayyyy sekali terlihatnya yah. Tapi itu yang saya rasakan, tidak saya tambahkan dan tidak saya kurangi. Di otak saya berkecamuk bermacam-macam pertanyaan, serta pernyataan yang saya 'create' sendiri. Jadi sebenarnya rasa takut muncul karena hasil pemikiran saya sendiri. Tetapi tekat saya sudah bulat saat itu, saya akan pergi ke bioskop sendiri serta merasakan perbedaan dan sensasinya nonton sendiri. Untuk anak kuliah tingkat 4 yang terbiasa dengan keramaian, ke bioskop sendiri bukan hal yang wajar hehehehhe.... (mencari pembenaran sendiri)
Setelah saya tiba di bisokop, saya merasa parno sendiri melihat orang berlalu lalang berdua atau bergerombol. Makin jiper, dan makin ciut nyali saya. Tapi yah mau bagaimana, sudah kadung berada di dalam lobby bioskop, dan teringat dengan tantangan yang saya buat sendiri. Saya melangkah ke arah loket dan memesan 1 buah tiket. Entah mengapa rasa-rasanya seperti di tatap ratusan mata yang mencibir, mencemooh dan menganggap saya aneh. Saya merasa kesepian di tengah-tengah keramain.
Setelah pintu bioskop dibuka, saya mencari kursi saya, dan lagi-lagi seperti ada yang berbisik di dalam otak saya. Ehhh, diliatin orang tuh, kok nontonnya sendiri, ga punya teman yah??? Saya coba untuk 'ignore' semua pemikiran di otak saya. Saya duduk manis menunggu film diputar, larut dalam mengikuti alur cerita dan tanpa terasa filmnya pun selesai. Saya keluar dari studio dan melangkah dengan kemenangan. Yeeaaaa..... I won my own battle, batin saya. Dan selama perjalan keluar studio, saya berpikir bahwa nonton sendiri bukan hal yang menakutkan, dan saya berpikir bahwa orang-orang yang berada dalam studiopun sebenarnya tidak terlalu memperhatikan saya. Mereka asik dengan diri mereka sendiri pastinya.
Sejak saat itu, saya tidak ragu lagi melakukan sesuatu sendiri. Sekarang, saya kerap berolahraga sendiri kalau partner olah raga saya berhalangan datang. Dulu, boro-boro olah raga sendiri, ada teman saja saya masih suka minder masuk ruang gym yang penuh orang apalagi bergym ria sendiri... *rasa minder tingkat tinggi xixixiiixiiii....
Satu hal yang saya pelajari, life must goes on... Ada atau tidak ada partner dalam melakukan sesuatu, saya harus tetap melangkah. Saya tidak dapat mengontrol jadwal orang untuk selalu sama dengan saya. Ketika saya membutuhkan secangkir kopi dan tidak ada yang menemani, saya tidak sungkan untuk melakukannya sendiri. Untuk membunuh waktu ketika menunggu teman yang terlambat datang atau saya yang datang terlalu dini, saya bisa duduk dengan manis di dalam bioskop sendiri, daripada saya keluyuran dan malah menjadi konsumtif.
Jadi, kesimpulan saya, rasa takut atau tidak percaya diri sebetulnya hadir karena pikiran kita sendiri. Kita yang terlampau parno memikirkan pendapat orang padahal orang lain sebetulnya tidak begitu peduli dengan apa yang kita lakukan. So, how about u guys? Tertantang untuk melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan secara beramai-ramai a.k.a keroyokan menjadi sendiri? Enjoy every minutes of it dan rasakan sensasinya hihhihiii...
PS: Tulisan ini untuk mbak ku yang cantik, Nik, yang membuat sayembara Solitare dan Sendiri. Maaf mba, ga jadi ikutan gabung waktu itu :(
Lalu, bagaimana dengan sendiri? Awalnya saya tidak suka melakukan sesuatu sendiri, saya tipe orang yang senang berkumpul, bukan orang yang senang menyendiri. Tetapi tidak dapat dipungkiri saya sering melakukan sesuatu sendiri. Saya teringat masa kuliah dulu, seorang teman saya kerap melakukan sesuatu sendiri. Dan ia sukses membuat saya terbengong-bengong mendengar ceritanya pergi berbelanja sendiri ke salah satu swalayan di daerah sudirman yang sekarang sudah tutup, nonton di bisokop sendiri, pergi ke gereja sendiri, dan banyak hal lainnya yang sering dilakukan sendiri. My God, aneh bener sih ini orang batin saya.
Suatu waktu saya tertantang untuk mencoba nonton di bisokop sendiri. Woooowww.... tau gak, untuk memulai melangkah dan mengingat tujuan saya pergi keluar saat itu dilalui dengan pergumulan yang besar. Perang batin, antara jadi pergi atau tidak. Keringat dingin, bolak balik di dalam rumah, resah dan gelisah. Lebaaaayyyy sekali terlihatnya yah. Tapi itu yang saya rasakan, tidak saya tambahkan dan tidak saya kurangi. Di otak saya berkecamuk bermacam-macam pertanyaan, serta pernyataan yang saya 'create' sendiri. Jadi sebenarnya rasa takut muncul karena hasil pemikiran saya sendiri. Tetapi tekat saya sudah bulat saat itu, saya akan pergi ke bioskop sendiri serta merasakan perbedaan dan sensasinya nonton sendiri. Untuk anak kuliah tingkat 4 yang terbiasa dengan keramaian, ke bioskop sendiri bukan hal yang wajar hehehehhe.... (mencari pembenaran sendiri)
Setelah saya tiba di bisokop, saya merasa parno sendiri melihat orang berlalu lalang berdua atau bergerombol. Makin jiper, dan makin ciut nyali saya. Tapi yah mau bagaimana, sudah kadung berada di dalam lobby bioskop, dan teringat dengan tantangan yang saya buat sendiri. Saya melangkah ke arah loket dan memesan 1 buah tiket. Entah mengapa rasa-rasanya seperti di tatap ratusan mata yang mencibir, mencemooh dan menganggap saya aneh. Saya merasa kesepian di tengah-tengah keramain.
Setelah pintu bioskop dibuka, saya mencari kursi saya, dan lagi-lagi seperti ada yang berbisik di dalam otak saya. Ehhh, diliatin orang tuh, kok nontonnya sendiri, ga punya teman yah??? Saya coba untuk 'ignore' semua pemikiran di otak saya. Saya duduk manis menunggu film diputar, larut dalam mengikuti alur cerita dan tanpa terasa filmnya pun selesai. Saya keluar dari studio dan melangkah dengan kemenangan. Yeeaaaa..... I won my own battle, batin saya. Dan selama perjalan keluar studio, saya berpikir bahwa nonton sendiri bukan hal yang menakutkan, dan saya berpikir bahwa orang-orang yang berada dalam studiopun sebenarnya tidak terlalu memperhatikan saya. Mereka asik dengan diri mereka sendiri pastinya.
Sejak saat itu, saya tidak ragu lagi melakukan sesuatu sendiri. Sekarang, saya kerap berolahraga sendiri kalau partner olah raga saya berhalangan datang. Dulu, boro-boro olah raga sendiri, ada teman saja saya masih suka minder masuk ruang gym yang penuh orang apalagi bergym ria sendiri... *rasa minder tingkat tinggi xixixiiixiiii....
Satu hal yang saya pelajari, life must goes on... Ada atau tidak ada partner dalam melakukan sesuatu, saya harus tetap melangkah. Saya tidak dapat mengontrol jadwal orang untuk selalu sama dengan saya. Ketika saya membutuhkan secangkir kopi dan tidak ada yang menemani, saya tidak sungkan untuk melakukannya sendiri. Untuk membunuh waktu ketika menunggu teman yang terlambat datang atau saya yang datang terlalu dini, saya bisa duduk dengan manis di dalam bioskop sendiri, daripada saya keluyuran dan malah menjadi konsumtif.
Jadi, kesimpulan saya, rasa takut atau tidak percaya diri sebetulnya hadir karena pikiran kita sendiri. Kita yang terlampau parno memikirkan pendapat orang padahal orang lain sebetulnya tidak begitu peduli dengan apa yang kita lakukan. So, how about u guys? Tertantang untuk melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan secara beramai-ramai a.k.a keroyokan menjadi sendiri? Enjoy every minutes of it dan rasakan sensasinya hihhihiii...
PS: Tulisan ini untuk mbak ku yang cantik, Nik, yang membuat sayembara Solitare dan Sendiri. Maaf mba, ga jadi ikutan gabung waktu itu :(
10 Mar 2012
Paris
Ketika menulis tulisan ini, saya teringat kejadian minggu lalu, dimana sekolah saya mengadakan "placement test" bagi para guru untuk kursus Bahasa Inggris.
Salah satu pertanyaan yang diberikan oleh si bule ganteng adalah apa kota atau negara yang ingin sekali saya kunjungi. Tanpa ragu, saya menyebut sebuah kota cantik nan romantis, yaitu Paris.
Kenapa Paris?
Karena ya itu tadi, kotanya terlihat sangat cantik dan sangat romantis. Hal pertama yang akan saya lakukan ketika diberi kesempatan untuk berkunjung adalah mengambil foto diri saya di bawah Menara Eiffel.
Kenapa Paris?
Saya ingin mengunjungi sebuah coffee shop atau entah sebuah restaurant dan memesan segelas kopi sambil duduk santai di kursi luar toko yang langsung menghadap jalanan. Menyeruput secangkir kopi panas sambil menikmati pemandangan kota di sekitarnya dan bercengkrama dengan santai.
Karena ya itu tadi, kotanya terlihat sangat cantik dan sangat romantis. Hal pertama yang akan saya lakukan ketika diberi kesempatan untuk berkunjung adalah mengambil foto diri saya di bawah Menara Eiffel.
Kenapa Paris?
Saya ingin mengunjungi sebuah coffee shop atau entah sebuah restaurant dan memesan segelas kopi sambil duduk santai di kursi luar toko yang langsung menghadap jalanan. Menyeruput secangkir kopi panas sambil menikmati pemandangan kota di sekitarnya dan bercengkrama dengan santai.
Kenapa Paris?
Karena hampir semua orang yang saya jumpai dan pernah ke Paris bilang bahwa paris itu sangat indah. Tidak ketinggalan, anak2 murid saya, yang sudah pernah pergi kesana mengatakan Paris itu kota yang indah dan bersih. Gimana gak penasaran coba????
Karena hampir semua orang yang saya jumpai dan pernah ke Paris bilang bahwa paris itu sangat indah. Tidak ketinggalan, anak2 murid saya, yang sudah pernah pergi kesana mengatakan Paris itu kota yang indah dan bersih. Gimana gak penasaran coba????
Kenapa Paris?
Karena di Paris terdapat toko loak a.k.a toko vintage yang menjual barang-barang second yang keren-keren dengan harga sangat murah. Saya pecinta barang bagus dan murah xixixixixiii.... dan tidak peduli barang itu bekas atau baru, asalakan masih layak untuk dipakai, dipajang dan dipandang, saya tidak ragu untuk membelinya.
Karena di Paris terdapat toko loak a.k.a toko vintage yang menjual barang-barang second yang keren-keren dengan harga sangat murah. Saya pecinta barang bagus dan murah xixixixixiii.... dan tidak peduli barang itu bekas atau baru, asalakan masih layak untuk dipakai, dipajang dan dipandang, saya tidak ragu untuk membelinya.
Kenapa Paris?
Karena di Paris terdapat sekolah pembuatan perhiasan. Saya memiliki ketertarikan atau minat besar terhadap perhiasan. Saya suka membuat beberapa perhiasan untuk saya pakai sendiri atau untuk saya jual. Beberapa tahun yang lalu, saya membaca di sebuah tabloit artikel tentang sebuah sekolah khusus untuk membuat perhiasan, dan mencetak lulusan designer perhiasan yang terbaik. Saya pun bertekat, jika di beri kesempatan saya ingin bersekolah disana dan menjadi seorang designer perhiasan dan "end in mind" dari semua itu adalah i have my own boutique... (cross my fingers)
I just fall in love with PARIS before i see it...
Karena di Paris terdapat sekolah pembuatan perhiasan. Saya memiliki ketertarikan atau minat besar terhadap perhiasan. Saya suka membuat beberapa perhiasan untuk saya pakai sendiri atau untuk saya jual. Beberapa tahun yang lalu, saya membaca di sebuah tabloit artikel tentang sebuah sekolah khusus untuk membuat perhiasan, dan mencetak lulusan designer perhiasan yang terbaik. Saya pun bertekat, jika di beri kesempatan saya ingin bersekolah disana dan menjadi seorang designer perhiasan dan "end in mind" dari semua itu adalah i have my own boutique... (cross my fingers)
I just fall in love with PARIS before i see it...
17 Feb 2012
My students are my observer - Part 1
Saya dan kopi, dua hal yang tak dapat dipisahkan.
Awalnya saya bukan pecinta kopi, melainkan pecinta teh, terutama teh hijau. Sampai pada tahun 2005, perjumpaan saya dengan kopi dimulai.
Saat itu saya bekerja disebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kontraktor telekomunikasi. Kebiasaan di kantor saya, setiap pagi sang OB akan berjalan membawa troli minuman dan menawarkan setiap orang minuman yang sudah dia buat. Hampir setiap pagi saya memilih kopi untuk saya minum.
Selepas makan siang, OB di kantor saya akan kembali berputar membawakan troli minuman dan menanyakan hal yang sama. Pilihan saya jatuh pada 'KOPI'.
Hampir setiap hari saya melakukan hal yang sama, memesan kopi. Lambat laun kebiasaan meminum kopi menjadi "habit" dan susah untuk saya hilangkan.
Hijrah dari kantor, saya pindah ke sebuah sekolah, menjadi guru, berbekal ijasah 'SPd'. Ternyata pekerjaan di tempat baru saya jauh lebih banyak dan lebih menantang sehingga saya membutuhkan kopi disela-sela waktu kerja saya. Setiap pagi saya membuat kopi saya sendiri dan membawanya kekelas. Anehnya, kalau pagi saya tidak minum kopi, hari saya serasa belum lengkap dan saya bisa uring-uringan, mengajarpun jadi tidak semangat.
Setelah dismissal murid selesai, saya akan kembali ke staff room dan kembali membuat secangkir kopi. Rasanya butuh energi tambahan atau doping setelah seharian mengajar dan melanjutkan sisa 1 1/2 jam untuk kembali bekerja.
Tanpa kopi, i'm nothing (lebaaayyyy xixixiii).
Suatu hari, anak murid saya yang baru 6 bulan bergabung di sekolah saya bilang ke teman saya "Miss. Shandra, dikit-dikit ngopi, dikit-dikit ngopi."
Ternyata anak2 murid saya pun sudah mencirikan kebiasaan saya di pagi hari, yaitu membawa cangkir kopi, meletakkannya di meja saya dan sedikit demi sedikit menyeruputnya.
My student is my true 'observer'...
Awalnya saya bukan pecinta kopi, melainkan pecinta teh, terutama teh hijau. Sampai pada tahun 2005, perjumpaan saya dengan kopi dimulai.
Saat itu saya bekerja disebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang kontraktor telekomunikasi. Kebiasaan di kantor saya, setiap pagi sang OB akan berjalan membawa troli minuman dan menawarkan setiap orang minuman yang sudah dia buat. Hampir setiap pagi saya memilih kopi untuk saya minum.
Selepas makan siang, OB di kantor saya akan kembali berputar membawakan troli minuman dan menanyakan hal yang sama. Pilihan saya jatuh pada 'KOPI'.
Hampir setiap hari saya melakukan hal yang sama, memesan kopi. Lambat laun kebiasaan meminum kopi menjadi "habit" dan susah untuk saya hilangkan.
Hijrah dari kantor, saya pindah ke sebuah sekolah, menjadi guru, berbekal ijasah 'SPd'. Ternyata pekerjaan di tempat baru saya jauh lebih banyak dan lebih menantang sehingga saya membutuhkan kopi disela-sela waktu kerja saya. Setiap pagi saya membuat kopi saya sendiri dan membawanya kekelas. Anehnya, kalau pagi saya tidak minum kopi, hari saya serasa belum lengkap dan saya bisa uring-uringan, mengajarpun jadi tidak semangat.
Setelah dismissal murid selesai, saya akan kembali ke staff room dan kembali membuat secangkir kopi. Rasanya butuh energi tambahan atau doping setelah seharian mengajar dan melanjutkan sisa 1 1/2 jam untuk kembali bekerja.
Tanpa kopi, i'm nothing (lebaaayyyy xixixiii).
Suatu hari, anak murid saya yang baru 6 bulan bergabung di sekolah saya bilang ke teman saya "Miss. Shandra, dikit-dikit ngopi, dikit-dikit ngopi."
Ternyata anak2 murid saya pun sudah mencirikan kebiasaan saya di pagi hari, yaitu membawa cangkir kopi, meletakkannya di meja saya dan sedikit demi sedikit menyeruputnya.
My student is my true 'observer'...
15 Feb 2012
Boy friend is....
Masih terbawa suasana valentinan (walaupun tidak merayakan karena menurut saya tiap hari harus diisi dengan rasa cinta) saya mau menceritakan cerita lucu dari anak murid saya, setahun yang lalu. Sudah basi memang, tetapi selalu lucu jika diingat kembali.
Salah satu anak murid saya di kelas 1, sebut saja namanya Beauty, mendefinisikan arti cinta di hadapan saya dan beberapa teman.
Suatu hari ia datang menghampiri saya dan berkata:
Beauty : Miss. Shandra, i have 3 boy friends.
Saya : What? 3 boy friends?
Beauty : Yes miss, well actually now i only have two. *showing sad face
Saya : Wooow... maybe what you mean is your best friend, your very close friend.
Beauty : No miss. Boy friend, not only best friend. Do you know what? Boy friend is someone that you love.
Saya : *speechless
Sampai sekarang saya masih bingung anak kelas 1 SD sudah mengenal istilah 'LOVE' dan dapat mengartikannya dengan bahasa yang sederhana.
Salah satu anak murid saya di kelas 1, sebut saja namanya Beauty, mendefinisikan arti cinta di hadapan saya dan beberapa teman.
Suatu hari ia datang menghampiri saya dan berkata:
Beauty : Miss. Shandra, i have 3 boy friends.
Saya : What? 3 boy friends?
Beauty : Yes miss, well actually now i only have two. *showing sad face
Saya : Wooow... maybe what you mean is your best friend, your very close friend.
Beauty : No miss. Boy friend, not only best friend. Do you know what? Boy friend is someone that you love.
Saya : *speechless
Sampai sekarang saya masih bingung anak kelas 1 SD sudah mengenal istilah 'LOVE' dan dapat mengartikannya dengan bahasa yang sederhana.
14 Feb 2012
What a day!
What a day!! Itu ungkapan yang dapat menggambarkan isi hati saya. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan dari stasiun keberangkatan sampai tiba di stasiun Gondangdia, emosi saya harus naik karena ulah 3 orang penumpang lain. Sepertinya kesabaran saya sedang diuji, dan saya gagal dalam ujian tersebut (hiiikksssss). Thanks God, rasa kesal saya tergantikan dengan perasaan gembira setelah mendapat kartu ucapan selamat hari kasih sayang dari salah satu anak murid saya. It looks simple, but it makes me happy all day long :)
Kekesalan PERTAMA:
Seperti hari kerja biasanya, saya berangkat kerja menggunakan transportasi kereta api. Tiba di stasiun saya langsung ikut mengantri dan memilih antrian di loket 2. Tiba-tiba ada seorang perempuan, terlihat masih muda dengan asiknya menyerobot antri di sebelah saya. Saya colek, lalu saya bilang 'mba, antri mba', dengan cueknya dia tetap menyodorkan uang kedalam loket. Bikin keki gak sih?? Lalu saya bilang, 'mba, bebek ajah antri loh'. Tetap dengan cueknya dia mengambil tiket dan melengos pergi. What the .....!!!!! Marah dan kesal, saya tegor si penjaga loket, 'mas, lain kali kalo ada yang nyelak ga usah diladenin dong'.... (gini nih kalo pegawai ga ditraining 7 habit - ga nyambung hehehehe)
Kekesalan ke DUA:
Kereta tercepat yang akan berangkat adalah KRL Ekonomi. Terlambat 10 menit. Gak terlambat aja udah penuh apalagi terlambat (pijet kening). Saya lekas bergegas menghampiri pintu kereta ketika kereta berhenti. Dikarenakan isi penumpang di dalam kereta sudah penuh, maka depan saya agak terhambat. Tiba2 seorang bapak nyeletuk, mba, jangan lelet dong (OMG!!!!) Saya nengok dan saya bilang 'otak bapak yang lelet, lama ngebedain mana yang rame dan yang sepi'... Sabaaaarrrr.... (ngelus dada)
kekesalan ke TIGA:
Setibamya kereta di stasiun Cikini, saya bersiap-siap untuk turun, mengingat penumpang yang naik dari stasiun manggarai semakin banyak, saya putuskan untuk segera berdiri bergegas kearah pintu agar dapat segera keluar setibanya dipemberhentian berikutnya stasiun Gondangdia. Mengarah kearah pintu, banyak rintangan yang saya lalui (lebaiiii xixixixii). Tiba2 seorang bapak berkata: 'jangan sikut2an dong mba' eeetttt dahhhh, ini bapak ga liat kondisi isi kereta yg kaya pepes ikan kali yah (kekiiii berat), saya nengok ke arah si bapak dan bilang: 'kenapa pak? Gak mau kesenggol? Jangan naik kereta ekonomi dong, ga liat apa jalan ajah susah!!!' (nyolot dan melotot)
Tiba di sekolah, saya bersiap-siap untuk mengajar. Sebelum teacher and students time dimulai (ritual pagi di sekolah kami adalah berdoa, mengucapkan student's mission statement dan class rules secara bersama2, serta menulis table Plus/delta yang terjadi selama hari kemarin dan sepanjang sisa hari ini, mengecek kelengkapan PR anak2 yang dipimpin oleh 'leader of the day' serta sesi 'show and tell', dimana anak-anak diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman serunya serta memperlihatkan benda yang ingin mereka ceritakan A.K.A 'mamer' xixixixiii), salah satu anak murid saya meminta ijin untuk memberikan kartu ucapan Valentine ke seluruh teman-temannya. Kartu-kartu tersebut dibuatnya sendiri. Karena saya harus mengajar di kelas 5 pada jam pertama, maka saya ijin ke partner saya untuk meluncur kesana. Setelah selesai mengajar, saya balik ke kelas dan melihat sebuah kartu kecil di atas meja kerja saya berisikan ucapan 'Happy Valentine Day, Ms. Sandra'. Woooww... Senangnya luar biasa melihat kartu kecil ucapan selamat hari kasih sayang, yang saya tahu dibuat dengan rasa cinta, perhatian yang besar serta kesabaran yang tinggi, karena ia harus membuat sebanyak 24 kartu untuk seluruh murid ditambah 2 guru kelas (saya dan teman saya).
Well, setelah pagi yang melelahkan dan sempat membuat emosi saya naik, pagi tadi ditutup dengan sukacita dan perasaan gembira. Thanks 'A' for the card. It's really nice. God bless you always :)
Kekesalan PERTAMA:
Seperti hari kerja biasanya, saya berangkat kerja menggunakan transportasi kereta api. Tiba di stasiun saya langsung ikut mengantri dan memilih antrian di loket 2. Tiba-tiba ada seorang perempuan, terlihat masih muda dengan asiknya menyerobot antri di sebelah saya. Saya colek, lalu saya bilang 'mba, antri mba', dengan cueknya dia tetap menyodorkan uang kedalam loket. Bikin keki gak sih?? Lalu saya bilang, 'mba, bebek ajah antri loh'. Tetap dengan cueknya dia mengambil tiket dan melengos pergi. What the .....!!!!! Marah dan kesal, saya tegor si penjaga loket, 'mas, lain kali kalo ada yang nyelak ga usah diladenin dong'.... (gini nih kalo pegawai ga ditraining 7 habit - ga nyambung hehehehe)
Kekesalan ke DUA:
Kereta tercepat yang akan berangkat adalah KRL Ekonomi. Terlambat 10 menit. Gak terlambat aja udah penuh apalagi terlambat (pijet kening). Saya lekas bergegas menghampiri pintu kereta ketika kereta berhenti. Dikarenakan isi penumpang di dalam kereta sudah penuh, maka depan saya agak terhambat. Tiba2 seorang bapak nyeletuk, mba, jangan lelet dong (OMG!!!!) Saya nengok dan saya bilang 'otak bapak yang lelet, lama ngebedain mana yang rame dan yang sepi'... Sabaaaarrrr.... (ngelus dada)
kekesalan ke TIGA:
Setibamya kereta di stasiun Cikini, saya bersiap-siap untuk turun, mengingat penumpang yang naik dari stasiun manggarai semakin banyak, saya putuskan untuk segera berdiri bergegas kearah pintu agar dapat segera keluar setibanya dipemberhentian berikutnya stasiun Gondangdia. Mengarah kearah pintu, banyak rintangan yang saya lalui (lebaiiii xixixixii). Tiba2 seorang bapak berkata: 'jangan sikut2an dong mba' eeetttt dahhhh, ini bapak ga liat kondisi isi kereta yg kaya pepes ikan kali yah (kekiiii berat), saya nengok ke arah si bapak dan bilang: 'kenapa pak? Gak mau kesenggol? Jangan naik kereta ekonomi dong, ga liat apa jalan ajah susah!!!' (nyolot dan melotot)
Tiba di sekolah, saya bersiap-siap untuk mengajar. Sebelum teacher and students time dimulai (ritual pagi di sekolah kami adalah berdoa, mengucapkan student's mission statement dan class rules secara bersama2, serta menulis table Plus/delta yang terjadi selama hari kemarin dan sepanjang sisa hari ini, mengecek kelengkapan PR anak2 yang dipimpin oleh 'leader of the day' serta sesi 'show and tell', dimana anak-anak diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman serunya serta memperlihatkan benda yang ingin mereka ceritakan A.K.A 'mamer' xixixixiii), salah satu anak murid saya meminta ijin untuk memberikan kartu ucapan Valentine ke seluruh teman-temannya. Kartu-kartu tersebut dibuatnya sendiri. Karena saya harus mengajar di kelas 5 pada jam pertama, maka saya ijin ke partner saya untuk meluncur kesana. Setelah selesai mengajar, saya balik ke kelas dan melihat sebuah kartu kecil di atas meja kerja saya berisikan ucapan 'Happy Valentine Day, Ms. Sandra'. Woooww... Senangnya luar biasa melihat kartu kecil ucapan selamat hari kasih sayang, yang saya tahu dibuat dengan rasa cinta, perhatian yang besar serta kesabaran yang tinggi, karena ia harus membuat sebanyak 24 kartu untuk seluruh murid ditambah 2 guru kelas (saya dan teman saya).
Well, setelah pagi yang melelahkan dan sempat membuat emosi saya naik, pagi tadi ditutup dengan sukacita dan perasaan gembira. Thanks 'A' for the card. It's really nice. God bless you always :)
3 Des 2011
Panic Attack
Hari ini berlalu layaknya hari minggu kebanyakan. Malam hari saya duduk di depan laptop untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang belum tersentuh serta mengedit beberapa bagian dalam slide power point yang akan ditampilkan esok pagi dalam acara assembly rutin sekolah. Kebetulan besok kelas saya mendapat tugas untuk memimpin acara tersebut. Acara yang akan kami tampilkan adalah drama berbahasa Indonesia dari daerah Papua. Anak-anak sudah berlatih dengan maksimal dari hari selasa kemarin, karena skrip drama baru saya rampungkan selasa pagi (persiapan kali ini sangat terburu-buru karena waktu yang kami miliki hanya 4 hari). Slide foto yang akan ditampilkan ketika orang tua menunggu sudah selesai. Tetapi slide urutan acara belum selesai semua. Ada satu lagu penutup yang belum saya masukkan.
Di tengah-tengah keasikan saya menyelesaikan slide, tiba-tiba handphone saya berbunyi:
Penelpon : Halo, selamat malam, dengan Miss. Shandra
Saya : Ya, betul, ini saya sendiri.
Penelpon : Maaf mis, saya susternya Andrew, ingin memberitahukan bahwa Andrew tidak dapat masuk besok.
Saya : Ooohhhhhhh (yang sangat panjang--tidak dpat berkata-kata karena otak saya lngsung memikirkan acara besok pagi, dimana Andrew adalah karakter utama dalam drama yang akan ditampilkan) Ada apa dengan Andrew mbak?? (Serangan pusing mendadak menghampiri saya)
Penelpon : Begini miss, tadi Andrew bermain ke pulau dengan teman-temannya, ketika waktunya pulang, kapal kami terlambat menjemput, sehingga kami harus menunggu. Teman-teman Andrew sudah pulang dari jam 4, kapal mereka on time. Ketika kapal kami hendak menuju Jakarta ombak besar datang dan hujan deras sekali, sehingga kami tertahan di sana. kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya bagi keselamatan kami. Ayah Andrew sudah melakukan segala upaya untuk kembali ke Jakarta.
Saya : ohh begitu mbak, ya sudah mbak, tidak apa-apa besok Andrew tidak masuk sekolah yang penting semuanya di sana selamat.
Penelpon : Alhamdulilah miss, kami semua selamat, terimakasih yah miss Shandra.
Saya : sama-sama mbak, salam buat semua keluarga di sana, semoga selamat sampai Jakarta.
Penelpon: Iya miss, makasih.
Tuuuuutttt....
Telepon mati, dan saya terdiam sesaat. Besok bagaimana acara assembly, bagaimana anak-anak kelas kami yang sudah berlatih selama seminggu ini, bagaimana para orang tua yang akan hadir untuk menonton dan melihat ketimpangam yang akan terjadi dikarenakan pemeran utama tidak datang. Pasti Andrew sedih dan merasa sudah mengecewakan teman-teman dan guru-guru. Saya berdoa semoga Andrew dan keluarga selamat tiba di Jakarta esok hari.
Saya panik dan berusaha tenang. Saya memutuskan memberitakan kabar ini kepada rekan kerja saya esok pagi saja. Toh, tidak ada pengaruh apa2 kalau saya kabarkan malam ini juga, yang ada malah menambah pikiran rekan saya dan membuatnya sulit tidur seperti yang saya alami sekarang. Saya pun memutuskan untuk tidur walaupun pada akhirnya mata ini susah untuk dipejamkan karena pikiran saya memikirkan siapa yang akan menggantikan pemeran utama, dan bagaimana jalannya pertunjukkan tersebut dengan pergantian tokoh utama yang membaca naskah selama pertunjukkan berlangsung. I surrender lord.
Tut tut...
Bunyi sms dan saya pun dengan malas membuka serta membacanya. Maaf miss, saya mengganggu lagi, besok Andrew bisa masuk sekolah karena sekarang kami sudah tiba di Jakarta, tadi papanya Andrew menjemput dengan kapal lain yang lebih besar.
AaAhhh Puji Tuhan, akhirnya saya benar-benar bisa melanjutkan tidur saya :d...
Malam Jakarta, sampai jumpa esok pagi :)
Di tengah-tengah keasikan saya menyelesaikan slide, tiba-tiba handphone saya berbunyi:
Penelpon : Halo, selamat malam, dengan Miss. Shandra
Saya : Ya, betul, ini saya sendiri.
Penelpon : Maaf mis, saya susternya Andrew, ingin memberitahukan bahwa Andrew tidak dapat masuk besok.
Saya : Ooohhhhhhh (yang sangat panjang--tidak dpat berkata-kata karena otak saya lngsung memikirkan acara besok pagi, dimana Andrew adalah karakter utama dalam drama yang akan ditampilkan) Ada apa dengan Andrew mbak?? (Serangan pusing mendadak menghampiri saya)
Penelpon : Begini miss, tadi Andrew bermain ke pulau dengan teman-temannya, ketika waktunya pulang, kapal kami terlambat menjemput, sehingga kami harus menunggu. Teman-teman Andrew sudah pulang dari jam 4, kapal mereka on time. Ketika kapal kami hendak menuju Jakarta ombak besar datang dan hujan deras sekali, sehingga kami tertahan di sana. kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya bagi keselamatan kami. Ayah Andrew sudah melakukan segala upaya untuk kembali ke Jakarta.
Saya : ohh begitu mbak, ya sudah mbak, tidak apa-apa besok Andrew tidak masuk sekolah yang penting semuanya di sana selamat.
Penelpon : Alhamdulilah miss, kami semua selamat, terimakasih yah miss Shandra.
Saya : sama-sama mbak, salam buat semua keluarga di sana, semoga selamat sampai Jakarta.
Penelpon: Iya miss, makasih.
Tuuuuutttt....
Telepon mati, dan saya terdiam sesaat. Besok bagaimana acara assembly, bagaimana anak-anak kelas kami yang sudah berlatih selama seminggu ini, bagaimana para orang tua yang akan hadir untuk menonton dan melihat ketimpangam yang akan terjadi dikarenakan pemeran utama tidak datang. Pasti Andrew sedih dan merasa sudah mengecewakan teman-teman dan guru-guru. Saya berdoa semoga Andrew dan keluarga selamat tiba di Jakarta esok hari.
Saya panik dan berusaha tenang. Saya memutuskan memberitakan kabar ini kepada rekan kerja saya esok pagi saja. Toh, tidak ada pengaruh apa2 kalau saya kabarkan malam ini juga, yang ada malah menambah pikiran rekan saya dan membuatnya sulit tidur seperti yang saya alami sekarang. Saya pun memutuskan untuk tidur walaupun pada akhirnya mata ini susah untuk dipejamkan karena pikiran saya memikirkan siapa yang akan menggantikan pemeran utama, dan bagaimana jalannya pertunjukkan tersebut dengan pergantian tokoh utama yang membaca naskah selama pertunjukkan berlangsung. I surrender lord.
Tut tut...
Bunyi sms dan saya pun dengan malas membuka serta membacanya. Maaf miss, saya mengganggu lagi, besok Andrew bisa masuk sekolah karena sekarang kami sudah tiba di Jakarta, tadi papanya Andrew menjemput dengan kapal lain yang lebih besar.
AaAhhh Puji Tuhan, akhirnya saya benar-benar bisa melanjutkan tidur saya :d...
Malam Jakarta, sampai jumpa esok pagi :)
8 Okt 2011
6 Okt 2011
The Sorrow
Oohh Lord,
Take my sorrow to the deepest sea
Take my pain to the highest sky
So, I will never feel sad again
Let this feeling disappear forever
For not thinking of him
And for not wanting him
Fly to the moon oh my burden
Fly away and never be back
Let this feeling be rejoice
Not mourning as a lost girl
Oh lord,
Take all the pain forever
And let me be happy forever
Lavender dan Colin
Diantara berbagai bunga hanya ada satu bunga yang aku suka … Lavender… Warnanya begitu indah, menyejukkan mata. Padahal dulu aku benci warna unggu. Tapi sejak aku jatuh cinta pada lavender, warna unggu menjadi salah satu warna favoritku. Entah mengapa… Sampai sampai aku memajang gambar lavender di komputerku, di meja kerjaku, di mana-mana dengan harapan suatu hari nanti aku bisa berkunjung ke ladang lavender dan berfoto di sana. Itu adalah impian… yang kupendam sejak lama, sejak aku jatuh cinta dengan lavender. Apalagi setelah aku melihat foto temanku yang berfoto diladang lavender, keinginanku semakin besar untuk berkunjung ke sana. Aku iri setengah mati. Andaikan aku yang ada di foto itu anganku waktu itu. Sekarang impianku masih membara dan aku masih berpikir positif bahwa suatu hari nanti aku juga akan kesana. Sebenarnya lavender ini mirip dengan rasa cintaku pada seseorang.
Diantara berbagai macam pria hanya ada satu pria yang membuatku jatuh hati. Panggil saja namanya Colin. Perangainya biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Dulu aku tidak suka setengah mati. Sampai aku berubah pikiran setelah mengenal colin lebih jauh karena kami harus berada dalam satu situasi yang mengharuskan kami berkomunikasi terus menerus. Lambat laun aku mengenal sosok Colin sebagai pria dewasa, penuh kasih sayang, pintar dan humoris. Dua kriteria dari belakang harus aku garis bawahi, karena sejak aku di kandungan ibuku, aku sudah punya kriteria untuk pasanganku, ia harus lebih pintar dari aku dan humoris. Alasannya sebenarnya sangat sederhana, pertama karena aku merasa diriku tidak terlalu pintar, jadi ketika aku butuh tempat untuk bertanya aku tahu harus kemana. Kedua, mengapa ia harus humoris karena aku ingin selalu tertawa dan bahagia, bahkan dimasa-masa sulitku. Tertawa mempermudah hidupku dan membuatku awet muda (ini ada surveynya lohhh). Seiring berjalannya waktu aku mendapati diriku bahwa aku jatuh cinta pada colin.
Bedanya dengan lavender, aku bisa dengan mudah menaruh gambarnya dimana-mana, sedangkan tidak dengan Colin. Aku bisa menceritakan Lavender kesemua orang, tapi tidak dengan Colin. Karena memang sejak pertama aku kenal dengannya aku sudah mendeklarasikan ke seluruh antero dunia bahwa aku benci dengan dirinya yang sok cool. Jadi jelas sudah mengapa aku tidak bisa menceritakannya kesemua orang. Dulu aku iri setengah mati melihat foto temanku diladang Lavender. Sekarang aku merasa cemburu melihat foto Collin dengan gadis-gadis cantik. Andaikan aku yang ada difoto itu batinku. Sama seperti impianku mengunjungi ladang Lavender suatu hari nanti, impianku terhadap Colin pun masih membara sampai saat ini. Aku ingin menjadi pasangan hidupnya suatu hari nanti. Colin yang dulu aku benci sekarang menjadi Colin yang aku rindukan setiap saat. Colin yang humoris selalu membuatku tertawa. Colin yang cool selalu membuatku penasaran. Jadi, kalau boleh disimpulkan impianku hanya dua, pergi keladang lavender di eropa sana dan menikah dengan Colin di tengah-tengah hamparan ladang lavender.
Diantara berbagai macam pria hanya ada satu pria yang membuatku jatuh hati. Panggil saja namanya Colin. Perangainya biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Dulu aku tidak suka setengah mati. Sampai aku berubah pikiran setelah mengenal colin lebih jauh karena kami harus berada dalam satu situasi yang mengharuskan kami berkomunikasi terus menerus. Lambat laun aku mengenal sosok Colin sebagai pria dewasa, penuh kasih sayang, pintar dan humoris. Dua kriteria dari belakang harus aku garis bawahi, karena sejak aku di kandungan ibuku, aku sudah punya kriteria untuk pasanganku, ia harus lebih pintar dari aku dan humoris. Alasannya sebenarnya sangat sederhana, pertama karena aku merasa diriku tidak terlalu pintar, jadi ketika aku butuh tempat untuk bertanya aku tahu harus kemana. Kedua, mengapa ia harus humoris karena aku ingin selalu tertawa dan bahagia, bahkan dimasa-masa sulitku. Tertawa mempermudah hidupku dan membuatku awet muda (ini ada surveynya lohhh). Seiring berjalannya waktu aku mendapati diriku bahwa aku jatuh cinta pada colin.
Bedanya dengan lavender, aku bisa dengan mudah menaruh gambarnya dimana-mana, sedangkan tidak dengan Colin. Aku bisa menceritakan Lavender kesemua orang, tapi tidak dengan Colin. Karena memang sejak pertama aku kenal dengannya aku sudah mendeklarasikan ke seluruh antero dunia bahwa aku benci dengan dirinya yang sok cool. Jadi jelas sudah mengapa aku tidak bisa menceritakannya kesemua orang. Dulu aku iri setengah mati melihat foto temanku diladang Lavender. Sekarang aku merasa cemburu melihat foto Collin dengan gadis-gadis cantik. Andaikan aku yang ada difoto itu batinku. Sama seperti impianku mengunjungi ladang Lavender suatu hari nanti, impianku terhadap Colin pun masih membara sampai saat ini. Aku ingin menjadi pasangan hidupnya suatu hari nanti. Colin yang dulu aku benci sekarang menjadi Colin yang aku rindukan setiap saat. Colin yang humoris selalu membuatku tertawa. Colin yang cool selalu membuatku penasaran. Jadi, kalau boleh disimpulkan impianku hanya dua, pergi keladang lavender di eropa sana dan menikah dengan Colin di tengah-tengah hamparan ladang lavender.
You and him
I think of you everyday
I need you every single minute
I miss you every night comes
While,
He thinks of me everyday
He needs me every single minute
He misses me every night comes
I love you for what you are
I like you for what you do
While
He loves me for what I am
He likes me for what I do
I need you every single minute
I miss you every night comes
While,
He thinks of me everyday
He needs me every single minute
He misses me every night comes
I love you for what you are
I like you for what you do
While
He loves me for what I am
He likes me for what I do
It’s You
What do I need at this moment?
It’s you
Who do I miss at this moment?
It’s you
What do I think of at this moment?
It’s you
You, to comfort me
You, to light up my days
You, to make me smile
You to make me happy
It’s only you all I need now
And it’s just only you…
It’s you
Who do I miss at this moment?
It’s you
What do I think of at this moment?
It’s you
You, to comfort me
You, to light up my days
You, to make me smile
You to make me happy
It’s only you all I need now
And it’s just only you…
Aku Jatuh Cinta
Aku jatuh cinta
Aku bahagia
Aku jatuh cinta lagi
Perasaan ini begitu menggebu gebu
Aku jatuh cinta lagi
Aku bahagia
Aku bahagia mendapatimu begitu baik
Aku bahagia mendapatimu begitu royal
Aku semakin jatuh cinta
Kau membawaku terbang melayang
Melupakan kesedihan yang aku hadapi di hari hari kemarin
Kau datang membawa inspirasi dan impian baru
Apa yang selama ini terlihat begitu sulit menjadi begitu mudah
Aku bahagia
Walau kadang hampa yang kurasa
Walau kadang rasa bersalah muncul dengan tiba tiba
Aku dapat mengelabuimu
Tapi tidak dengan hatiku
Aku bertanya apakah aku jatuh cinta
Dan ya yang kudapat
Aku memang benar2 jatuh cinta
Aku jatuh cinta dengan segala kemewahan yang kau beri
Aku jatuh cinta dengan ribuan bunga yang kau kirim
Aku jatuh cinta dengan hadiah mewah yang kau beri
Tapi tidak dengan hatimu
Tapi tidak dengan sosokmu
Aku bahagia
Aku jatuh cinta lagi
Perasaan ini begitu menggebu gebu
Aku jatuh cinta lagi
Aku bahagia
Aku bahagia mendapatimu begitu baik
Aku bahagia mendapatimu begitu royal
Aku semakin jatuh cinta
Kau membawaku terbang melayang
Melupakan kesedihan yang aku hadapi di hari hari kemarin
Kau datang membawa inspirasi dan impian baru
Apa yang selama ini terlihat begitu sulit menjadi begitu mudah
Aku bahagia
Walau kadang hampa yang kurasa
Walau kadang rasa bersalah muncul dengan tiba tiba
Aku dapat mengelabuimu
Tapi tidak dengan hatiku
Aku bertanya apakah aku jatuh cinta
Dan ya yang kudapat
Aku memang benar2 jatuh cinta
Aku jatuh cinta dengan segala kemewahan yang kau beri
Aku jatuh cinta dengan ribuan bunga yang kau kirim
Aku jatuh cinta dengan hadiah mewah yang kau beri
Tapi tidak dengan hatimu
Tapi tidak dengan sosokmu
Ternyata kau juga mencintaiku ^_^
Dulu aku jatuh cinta padamu, kemudian lambat laun rasa itu hilang dari hatiku. Rasa cinta kepadamu tergantikan dengan sosok lain, dan aku mulai benar2 jatuh cinta padanya. Tiba tiba aku merasakan cinta itu hilang dan redup perlahan lahan. Sampai suatu hari aku bertemu denganmu di sebuah kedai kopi favoritku. Aku duduk diam menatap keluar, mengamati keramaian lalu lintas, padahal didalamnya, hanya berjarak kurang dari 1 meter aku merasakan kesunyian. 2 dunia yg berbeda. Lalu, tiba2 aku melihat pintu cafe terbuka, pelan2 masuk seseorang kedalam. Aku diam2 mengamatinya, sampai aku diam terpana. Hati ini bergejolak, bak naik roller coaster, adrenalin ku berpacu cepat. Sosok itu begitu aku kenal. Perawakannya, gaya berjalannya, caranya menatap sekelilingnya. Ahhh benar itu dirimu. Reflek tanganku dan mulutku memanggilmu. Lalu, tiba2 kau berada tepat didepanku. Kusambut salam darimu, dan mencium pipimu. Wangi ini begitu kukenal. Yah, kau masih seperti yg dulu, kau masih seperti pujaanku.
Kau duduk tepat didepanku, memesan segelas Cappuccino. Kita berbincang2 mengingat masa lalu. Lalu sampailah kita pada sebuah percakapan yang membuat aku terhenyak. Kau bilang, beberapa tahun lalu, kau menyukaiku, tidak berani menyatakan cintamu kepadaku, karna kau pikir aku tidak mungkin jatuh cinta padamu. Ohhhh Tuhan, beberapa tahun lalu akupun jatuh cinta padamu, dan tidak berani menyatakan rasa itu karna aku takut akan sebuah penolakan, takut kau menjawab bahwa kau menganggapku hanya seperti adik perempuanmu. Perhatianmu, kasih sayangmu dan semua kebaikanmu hanya karna kau menganggap bahwa aku ini sahabat terbaikmu. Otakku terus2san memikirkan hal itu, menarik kesimpulan sendiri, bahwa kau tidak mencintaiku, dan bahwa aku takut kau tidak merasakan hal yang sama.
Beberapa tahun lalu, ternyata kita berdua sama2 memiliki perasaan yang sama, sama2 saling mencintai dan sama2 takut untuk mengungkapkan. Entah mengapa tiba2 Tuhan mempertemukan kita kembali di tempat ini, tempat pertama kali kita bertemu. Dan aku tahu bahwa perbincangan kita hanyalah sebuah perbincangan biasa, berusaha mengingat kembali pertemanan kita beberapa waktu lalu, menjalin tali silahturahmi yang sempat terputus. Kita bercerita tentang segala hal, kau menunjukkan cincin pernikahanmu padaku, dan memperlihatkan foto istrimu yang ayu. Aku pun bercerita tentang hidupku, tentang impian2nku, tentang kekasih hatiku saat ini. Kau tahu, sampai saat ini aku masih mengagumimu. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan pernah memilikimu. Aku akan melanjutkan studiku ke luar negri, impian yang selama ini aku miliki dan kau pun harus kembali ke daerahmu untuk membina rumah tangga yang baru saja kau bangun. Kau tahu, kita memang tidak berjodoh. Kalau saja waktu itu kita berdua dipersatukan, mungkin hidup ini akan berbeda, mungkin ternyata aku tidak akan bahagia dan kaupun sebaliknya. Ya, kita memang tidak berjodoh!!!
Kau duduk tepat didepanku, memesan segelas Cappuccino. Kita berbincang2 mengingat masa lalu. Lalu sampailah kita pada sebuah percakapan yang membuat aku terhenyak. Kau bilang, beberapa tahun lalu, kau menyukaiku, tidak berani menyatakan cintamu kepadaku, karna kau pikir aku tidak mungkin jatuh cinta padamu. Ohhhh Tuhan, beberapa tahun lalu akupun jatuh cinta padamu, dan tidak berani menyatakan rasa itu karna aku takut akan sebuah penolakan, takut kau menjawab bahwa kau menganggapku hanya seperti adik perempuanmu. Perhatianmu, kasih sayangmu dan semua kebaikanmu hanya karna kau menganggap bahwa aku ini sahabat terbaikmu. Otakku terus2san memikirkan hal itu, menarik kesimpulan sendiri, bahwa kau tidak mencintaiku, dan bahwa aku takut kau tidak merasakan hal yang sama.
Beberapa tahun lalu, ternyata kita berdua sama2 memiliki perasaan yang sama, sama2 saling mencintai dan sama2 takut untuk mengungkapkan. Entah mengapa tiba2 Tuhan mempertemukan kita kembali di tempat ini, tempat pertama kali kita bertemu. Dan aku tahu bahwa perbincangan kita hanyalah sebuah perbincangan biasa, berusaha mengingat kembali pertemanan kita beberapa waktu lalu, menjalin tali silahturahmi yang sempat terputus. Kita bercerita tentang segala hal, kau menunjukkan cincin pernikahanmu padaku, dan memperlihatkan foto istrimu yang ayu. Aku pun bercerita tentang hidupku, tentang impian2nku, tentang kekasih hatiku saat ini. Kau tahu, sampai saat ini aku masih mengagumimu. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan pernah memilikimu. Aku akan melanjutkan studiku ke luar negri, impian yang selama ini aku miliki dan kau pun harus kembali ke daerahmu untuk membina rumah tangga yang baru saja kau bangun. Kau tahu, kita memang tidak berjodoh. Kalau saja waktu itu kita berdua dipersatukan, mungkin hidup ini akan berbeda, mungkin ternyata aku tidak akan bahagia dan kaupun sebaliknya. Ya, kita memang tidak berjodoh!!!
Langganan:
Postingan (Atom)








.jpg)